Deniar’s Diary Blog

Hanya sekedar curhatan harian

My 4D3N at Singapore – day I

without comments

Perjalanan Wisata 4D3N (4 Day 3 Night) ini sudah lama kami (@EvandaGita) rencanakan. Tiket perjalanan sudah dibeli setahun sebelumnya, maklum kami masih menjadi low price trip hunter. Kami berangkat berempat, bersama dengan satu pasangan teman kami lagi. Dan inilah perjalanan pertama kami ke luar negeri. Berikut kami bagi beberapa cerita kami dari persiapan sampai dengan hari H. Mungkin bisa jadi acuan yang pengen berangkat liburan ke Singapore juga. Cocok bagi newbie yang belum pernah bahkan jarang traveling meskipun domestik.

Day I – Keberangkatan

Kami berangkat dari daerah Bintaro, dan cukup mudah berangkat dari daerah Bintaro ke Bandara. Tinggal naik Trav, ada beberapa pilihan yaitu X-Trans atau Cipaganti. Bikinlah perhitungan yang tepat soal waktu keberangkatan. Jadwal pesawat kami yaitu pukul 11.30 WIB. Estimasi persiapan kami yaitu 4 jam sebelum keberangkatan. Ini adalah waktu yang cukup dari daerah Bintaro untuk Penerbangan Internasional, 1-2 jam perjalanan + 1 jam riwa-riwi di airport + 1 jam spare. Disarankan untuk memesan travel beberapa hari sebelumnya, atau akan mengalami seperti kami yaitu harus switch ke taksi karena jadwal keberangkatan pada jam itu penuh dan kami membelinya go-show.

Ingat, kita harus lebih prepare dalam penerbangan Internasional karena ada kepengurusan imigrasi di Bandara serta pemeriksaan barang-barang. Sedikit menambahkan spare waktu untuk wira-wiri di airport (termasuk kepengurusan imigrasi) ini sangat disarankan. Beberapa tips singkat diantaranya, bawalah ballpoint (biru/hitam) sendiri dan bawalah kantong/dompet untuk passpor, boarding pass, dll yang mudah dijangkau dan diambil, karena beberapa pemeriksaan memerlukannya. Termasuk apabila ada permasalahan dengan barang bawaan kita. Pada perjalanan ini kami terpaksa berhenti di salah satu pos pemeriksaan barang karena teman kami membawa salah satu barang yang dirasa cukup dicurigai.

Permasalahan membawa benda liquid (cair) atau gel? Mungkin masih banyak yang bingung dan tidak tahu bagaimana rule pastinya. Yang kita dengar adalah ‘tidak boleh membawa lebih dari 100mL’. Jelasnya ketentuan ini adalah satu kemasan (misal botol parfum) tidak boleh lebih dari 100mL. Misalkan membawa parfum 50mL, shampoo 50mL, dan odol 50mL (total 150mL) tidak masalah. Saran kami, masukkan benda-benda tersebut ke dalam satu kemasan plastik tertutup, dan taruhlah di bagian yang mudah terlihat dan terjangkau agar pada saat pemeriksaan memudahkan. Apabila membawa satu kemasan lebih dari 100mL, misalkan cairan softlense, masukkan ke dalam tas yang dibawa ke bagasi pesawat. Jadi aturan ini berlaku hanya untuk tas yang dibawa ke dalam kabin saja.

Tiba Di Changi

Kesan pertama kami begitu sampai di Changi Airport, adalah mewah, modern, rapi, dan bersih. Memang Singapore terkenal dengan negara serba rapi, bersih, dan teratur. Tidak perlu khawatir di Singapore kalau bahasa Inggris kita belepotan karena semua sign (tanda) di sini terpampang dengan sangat jelas. Kita mau kemana, apa, dan bagaimana semua sangat jelas. Dan janganlah malu bertanya, karena takut kita tidak tahu dan menyalahi aturan maka dendanya akan sangat besar.

Dan jangan lupa untuk mensetting terlebih dahulu jam tangan kamu, karena Singapore dan Jakarta (WIB) ada perbedaan waktu 1 jam lebih awal di Singapore. Kenapa harus benar-benar di setting? Karena aku pernah punya pengalaman buruk, hampir terlambat ketinggalan pesawat di Bali yang beda waktunya 1 jam karena salah lihat jam tangan, dan menyepelekan karena kupikir bisa di dalam awang-awang saja untuk memperkirakan waktu. Hal kecil tapi mohon untuk diperhatikan agar kita tidak salah schedule.

Bahkan beberapa tanda dituliskan dalam beberapa bahasa yaitu Inggris, China, India, dan Melayu. Masyarakat di Singapore termasuk majemuk. Dan setiap tanda banyak dituliskan dalam ke-empat bahasa ini. Suatu hal yang cukup aneh menurutku di negara se-maju Singapore, kenapa tidak cukup satu misalkan Bahasa Inggris. Aku rasa karena banyak penduduk lokal yang tidak terlalu paham bahasa Inggris. Bahkan beberapa announcement berupa suara, disuarakan menggunakan beberapa (empat) bahasa ini.

Kami tetap pada prinsip travelin kami kali ini yaitu, low cost. Dari Indonesia kami sudah membawa beberapa botol air minum (kosong), karena air mineral kemasan di Singapore cukup mahal. Setidaknya 1SGD (sekitar Rp 7.000,- saat kami berangkat) untuk ukuran 500mL, coba dikalikan beberapa kali minum. Berbeda dengan Indonesia yang dengan setengah harga tersebut bisa mendapatkan ukuran 1500mL. Namun jangan khawatir, bahwa air keran Singapore termasuk layak langsung minum. Jadi strategi kami adalah mengisi thumbler (botol minum) kami dari beberapa water tap yang tersedia. Begitu keluar dari area ‘arrival’ di sebelah kios Burger King, agak ke arah toilet ada water tap. Jangan lupa untuk isi air dulu di situ. Air keran di Singapore segar dan enak loh.

Kami tiba di Changi bersamaan dengan waktu makan siang. Untuk makan di area Airport ini setidaknya dibutuhkan 4-10 SGD per pax ( Rp. 28.000 – 70.000,-). Carilah ‘Staff Canteen’, yang pintu masuknya tidak jauh dari water tap sebelah Burger King tadi. Tidak perlu malu dan merasa sungkan, turis diperbolehkan makan di situ juga koq. Kurasa banyak backpacker yang makan di ‘staff canteen’ juga. Harga makanannya jauh relatif lebih murah berkisar 1-4 SGD, dan tidak perlu beli minum kan sudah bawa botol air yang sudah diisi tadi.

Staff Canteen di Changi sangatlah bersih, bahkan selevel dengan food court di mall-mall yang ada di Indonesia. Memang cukup rancu di sini untuk menemukan makanan halal di sini. Janganlah ragu bertanya ‘Apakah makanan ini halal?’. Akhirnya kami memesan nasi rawon (yang cukup familiar) dengan harga 2SGD. Dan ternyata porsinya sangat besar, cukup untuk makan berdua. Jadi estimasinya makan di sini 1SGD dengan air minum gratis. Oh ya, jangan harap menemukan wastafel di area-area food court Singapore, karena apabila ada wastafel maka orang tidak akan memesan minum, dan minum di air keran. Jadi mengisi air minum sebelum makan adalah langkah yang sangat tepat. Dan bawalah juga ‘Liquid Hand Sanitizer’.

Untuk Terminal Kedatangan penerbangan Air Asia adalah di Terminal 1. Untuk sampai ke MRT haruslah naik terlebih dahulu menggunakan Sky Train ke arah Terminal 2. Kalau dari arah Burger King yang tadi, naik satu lantai. Baru setelah sampai di Terminal 2 kita tinggal jalan mengikuti arah ke MRT, atau ikuti saja arah orang-orang berjalan.

 MRT Singapore

Dari terminal 2, kita akan tiba di stasiun MRT. Di sini ada beberapa pilihan untuk metode pembayaran MRT. Yaitu menggunakan Singapore Tourist Pass, EzLink, atau tiket sekali jalan. Kalau Singapore Tourist Pass seperti all you can eat, jadi sepuasnya mau muter-muter naik MRT / Bus ke arah mana saja cukup sekitar 8SGD per hari. EzLink seperti di Indonesia adalah elektronik payment model Flazz (BCA) atau E-Toll/Indomaret Card (Mandiri) yang bisa di topup. Atau tiket sekali jalan yang dibeli di alat pembelian otomatis, dan bisa direfund apabila ada kembalian, namun cukup repot kurasa. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli EzLink karena kami berpikir ada beberapa kemungkinan kami harus melakukan pembayaran elektronik selain alat transportasi, dan dirasa cukup lebih hemat dibandingkan harus membeli 8SG x 4 hari, belum termasuk deposit kartunya. Total akhir perjalanan kami hanya menghabiskan sekitar 15SGD. Membeli EzLink harus deposit juga sekitar 5$. Jadi pembelian pertama sektiar 12$, yaitu 5$ deposit dan 7$ untuk semacam pulsa kita. Beli di konter dekat pintu masuk MRT. Cara penggunaannya pun cukup mudah yaitu cukup didekatkan ke sensor di gate masuk. Dan jangan lupa untuk tap lagi di gate keluar di stasiun tujuan.

Carilah peta MRT di sekitar itu. Atau bisa download sebelumnya dan simpan di handphone kamu. Atau buat kamu yang pakai iPhone/iPod bisa download aplikasi peta MRT di AppStore gratis, ada banyak salah satunya adalah ESG Explore Metro. Cara bacanya pun cukup mudah, bagi yang terbiasa naik buswy akan mengerti. Di beberapa persimpangan jalur MRT kita bisa transit ke jalur yang lain.

Dari MRT Changi untuk ke arah Kota (tujuan kita) tidak bisa langsung, harus ke arah Tanah Merah terlebih dahulu. Baru dari stasiun Tanah Merah kita bisa melalang buana ke arah mana saja dengan MRT.

Dan ingat, di area Stasiun MRT ataupun di dalam MRT itu sendiri kita tidak diperkenankan untuk makan atau minum. Dan si sini CCTV ada dimana-mana. Pastikan untuk mendengarkan setiap announcement stasiun pemberhentian agar kita tidak ‘kebablasan’

Little India (to Zenobia Hotel)

Kami menginap di Zenobia Hotel, daerah Litle India. Daerah yang cukup strategis dan MRT mudah untuk ke mana saja terutama Sentosa Island. Sebenarnya banyak juga yang model degan menyewa apartemen di daerah Lucky Plaza yang terkenal cukup murah. Namun istriku lebih memilih di sini karena dari beberapa referensi hotel ini cukup bersih, murah, dan kamar mandi dalam (karena istriku menggunakan jilbab).

Dari Stasiun Tanah Merah, menggunakan MRT jalur hijau ke arah Joo Koon, dan berhenti di Outram Park untuk transit ke jalur ungu. Dari Outram Park, naik yang ke arah Punggol dan berhenti di Little India. Total perjalanan dari Changi ke Little India sekitar 45-60 menit (perhatikan juga estimasi untuk pulang nanti).

Untuk ke arah Zenobia Hotel lebih dekat keluar di stasiun Little India dibandingkan Farrer Park. Beberapa guide di internet mengarahkan untuk turun di Farrer Park. Percayalah, akan sangat lebih jauh. Dan kami pun mengikuti pula untuk turun di Farrer Park, alhasil harus berjalan cukup jauh untuk menenteng koper dan ransel kami. Kalau dari Little India, keluarlah di pintu ‘E’, kemudian setelah naik eskalator dan keluar di jalan, belok kiri sehingga pasar ada di sisi kiri kamu dan Teka Center di kanan kamu. Selusuri jalan tersebut kemudian mentok belok kiri, ikuti  jalan Serangon Road beberapa puluh meter. Nanti akan bertemu dengan seperti perempatan pertama, belok kanan (menyeberang jalan) dan lurus terus ke arah Upper Weld Road, kemudian carilah Zenobia Hotel tidak jauh dari itu (lokasi di depan area taman parkir).

Little India memang benar-benar berasa seperti di India. Dari masyarakat yang tinggal kebanyakan India, toko-toko, reklame / tulisan, makanan, sampai dengan bau nya pun benar-benar India. Memang benar disebut Little India (India kecil). Memang kalau dilihat kawasan ini agak berantakan dibandingkan dengan kawasan Singapore lainnya. Namun setidaknya kurasa jauh lebih rapi, bersih, dan teratur dibandingkan dengan India sebenarnya. Dan setidaknya pula Little India ini lebih rapi dan bersih dibandingkan dengan di Tanah Abang, Jakarta.

Dalam perjalanan (jalan kaki tenteng-tenteng koper) dari Farrer Park ke Zenobia Hotel, kami belum melaksanakan sholat. Dan di sepanjang Serangon Road tersebut ada sebuah masjid, jadi yang kebetulan lewat atau berada di Little India atau Mustafa bisa memanfaatkan masjid tersebut untuk melaksanakan sholat terlebih dahulu. Pada waktu itu sekitar pukul setengah 5, dan kami cukup kaget karena azan berkumandang. Kami kira itu waktu sholat maghrib telah tiba, eh ternyata Azan Ashar.

Di Zenobia Hotel kita juga bisa memanfaatkan fasilitas internet gratis (via hotspot di kamar) dan di lobby juga tersedia satu unit PC, manfaatkanlah untuk browsing-browsing mencari referensi tujuan dan peta. Sangat disarankan setiap kali kita keluar untuk jalan-jalan, melihat dulu peta lokasi tujuan dan cara ke MRT / Bus nya. Website yang sangat disarankan adalah gothere.sg

Eat at Teka Center Food Court

Setelah kami beristirahat sejenak, akhirnya kami putuskan untuk makan malam terlebih dahulu. Ada salah satu area dimana kita bisa cari makanan halal di Singapore, Little India. Yaitu di food court Teka Center. Areanya cukup luas, kunjungilah area kios makanan India / Arab. Di situ lebih terpercaya untuk makanan halal. Mulai dari Makanan Indonesia sendiri (Padang) sampai dengan yang berbumbu kuat ala India. Cara mencari makanan yang halal cukup mudah di sini, memang tidak ada tulisan arab ‘halal’ (karena harus sertifikasi MUI Singapore dahulu) tetapi untuk setiap kios makanan halal, di depannya terpampang tulisan arab ‘Basmallah’. Kami di sini sempat mencoba murtobak (martabak India). Makanan di sini berkisar 1-4 SGD. Cukup murah bukan dibandingkan di luar?

Kami sengaja makan di area ini, karena sangat mudah menemukan makanan halal. Karena begitu keluar dari area ini,  agak susah mencari makanan halal.

China Town

Kemudian kami melanjutkan untuk mengunjungi China Town, pusat keramaian berikutnya.  Dari stasiun MRT Little India cukup mudah, tinggal naik ke arah Harbour Front, dan turun 3 stasiun berikutnya di stasiun China Town.

Di China Town, kamu bisa beli oleh-oleh pernak-pernik seperti gantungan kunci Singapore. Percayalah di area ini gantungan kunci Singapore paling murah, 1SGD dapat 6 buah gantungan kunci. Kalau belum mendapatkan harga 1SGD, carilah terus sampai dapat (pasti ada). Di China Town kamu juga bisa coba becak Singapore, biasanya bergerak rombongan. Kalau mau coba silakan, tapi kami tidak mencoba karena rombongan becak pada saat kami tiba sudah berangkat berkeliling.

Clarke Quay

Inilah pusat dunia gemerlap Singapore di malam hari. Tidak jauh dari China Town, tinggal beberapa ratus meter ke arah Utara-Timur (North East) dan carilah / bertanya arah River Side / Clarke Quay. Kalau naik MRT juga bisa, tapi nanggung hanya terpaut 1 hop stasiun.

Di sini kita bisa melihat pemandangan di sisi Sungai yang indah dengan gemerlap lampu dan keramaiannya. Ada beberapa restoran di sini, dan memang tempat yang cocok untuk dinning dan minum. Tetapi maaf, karena kami tidak minum (alkohol) dan tidak merasa cukup uang untuk dinning di sini akhirnya hanya jalan-jalan saja.

Untuk cari panganan / minuman yang murah (tidak ada water tap di sini) carilah Seven Eleven atau McDonalds. McDonalds di sini lebih murah dibandingkan restoran di sekitar. Bahkan lebih murah dan enak dibandingkan di Indonesia. Untuk Double CheeseBurger atau BigMac (tanpa minum) sekitar 2-3SGD. Atau coba Apple Pie yang sudah lama tidak ada di Indonesia hanya dengan 1SGD. Dan ingat untuk tetap pada prinsip awal, bawa botol air minum kemana saja.

Di sini juga ada eskrim enak yang patut di coba. Eskrim Walls potong yang tidak ada di Indonesia, dibalut dengan roti atau biskuit. Cukup dengan 1SGD. Jajanan yang wajib dicoba. Apalagi sambil duduk-duduk di jembatan menikmati pemandangan gemerlap Clarke Quay dan keramaiannya.

Dan berakhirlah jalan-jalan hari pertama kami. Berikutnya kami kembali ke hotel sekitar pukul 23.00 waktu Singapore. MRT masih jalan koq jam segini.

Written by deniar

May 14th, 2011 at 5:34 am

Posted in daily,travelling

Tagged with , ,

Leave a Reply